Schoolchildren knit and knot the holidays away in Bandung
July 14, 2007 Yuli Tri Suwarni
The Jakarta Post, Bandung
Some 20 children were sitting on the floor holding colorful threads and chopstick-like sticks in their hands. Most of them were about to learn something they had never learned before: Knitting.
The children were not at school but rather at a hotel in Bandung, West Java.
Their instructor, Yenti Aprianti, said today the children would be taught about Macram‚, a method of textile making which uses a knotting, rather than weaving or knitting, technique.
Knotting, which predominantly uses square knots and forms of hitching, has been used by sailors and in a decorative sense, such as on knife handles and around bottles, for aeons.
Yenti said the technique is easily practiced and would sharpen the children's creativity as well as introduce them to many shapes and forms. The technique, she said, was first taught to boys in Scandinavia and Germany, but in its development it became popular among girls. The threads can easily be thickened and leather rope can also be used, widening the technique's appeal.
In Indonesia, Macrame‚ is used to make various handicraft products such as bags, bracelets and even chairs.
"Who wants to make a wallet? Anyone want to make bracelet? Let's hold the sticks and cover it with threads like this," Yenti directed the children, aged between six and 15 years.
The children were soon clicking away with their needles and colorful thread while learning the Macrame‚ technique.
"I love to make bracelets, animal dolls and even dragonflies, even though it's difficult," said 8-year-old Angela Muksim, a second grader at S.D. Tunas Bangsa elementary school in Bekasi. It was not the girl's first knitting experience, but she said she never grows tired of the art because of the wide variety of products she can make.
For 9-year-old Faiza, a fourth grader at S.D. Budi Mulia in Jakarta, the course presented her with her first knitting experience, though she has grown accustomed to various knitting products such as bags and cell phone pouches.
"It's fun to make it yourself," she said while proudly showing off an orange bracelet she had made.
Twelve-year-old Jessica, a third year student at S.M.P. Harapan Bunda junior high in Jakarta, was not troubled in her efforts to knit, producing a handbag and bracelet and helping younger kids with their individual projects.
But the one-hour course did not provide enough time for the students to complete their knitting projects, as some were collected by their parents, eager to check out of the hotel.
"Let's finish this at home," Jessica said to her sister, who was reluctant to leave when the course was over.
The class was held for school children staying at the Savoy Homan Bidakara hotel in Bandung during their school holidays. Most came from Jakarta with their parents.
The hotel's public relations manager Diah Suhandi said for this year's school holidays, the hotel would hold a raft of short courses for children. Of the hotel's 147 rooms, 40 were occupied by families. The Macrame‚ course was the first of such courses to be held. "Other courses will include cooking and ceramics," Diah said. Children staying at the hotel were pampered, given gifts and allowed to borrow various games for two hours, including Playstations and table soccer.
Sunday, December 30, 2007
Saturday, December 29, 2007
Makrame dan Pasar Kosambi

Pasar Kosambi dan makrame, apa hubungannya?
Ada. Hubungannya dimunculkan Spicefest :)
Bulan Desember 2007, Republic Entertainment bikin acara Spice Festival atau Spicefest. Kirain pameran rempah-rempah semua. Gak tahunya rempah tetap cuma jadi "bumbu". Nah ada satu stand yang coba menjadikan spice sebagai "bumbu" dalam aksesoris. Lupa apa nama standnya. Tapi beberapa lama ngamatin orang yang lagi kursus sekejap bikin akseoris dari rempah-rempah seperti kayu manis, tiba-tiba aku pingin langsung berburu di pasar tradisional Kosambi, Jalan A. Yani, Kota Bandung.
Pasar tersebut menjual berbagai macam rempah. Murah-murah. Aku beli rempah yang buat kare...bentuknya kayak bintang. Apa ya namanya? trus beli empat genggam mahkota dewa kering Rp 1500, plus kayu manis 3 batang Rp 1500. Aku juga beli bor manual, gergaji, berikut sekotak mata bor, dan sekalian beli pengukir sabun dengan uang Rp 60.000 saja.
Pulangnya iseng coba-coba bikin aksesoris yang digabungin dengan makrame. Jadinya anting, gantungan kunci dan gelang. Nah, ada kan hubungannya Pasar Kosambi dan makrame....:p
Rame-Rame Bikin Makrame
Pernah ikut pramuka? Atau inget gak bentuk tali pluit pramuka? Atau masih nyimpen buku saku pramuka?
Semua pertanyaan itu ada hubungannya dengan makrame atau seni tali temali. Nah salah satu bentuk makrame itu adalah tali pluit pramuka. Di buku saku pramuka, ada tuh langkah2 gimana caranya membuat berbagai macam tali. Dari mulai tali untuk ngiket kepala kambing biar gak mencekik tapi gak mudah lepas, sampai tali makrame itu.
Sayangnya, dulu sewaktu SD dan gabung di pramuka, aku gak pernah peduli sama lembar-lembar pelajaran tali temali itu. Baru setahun lalu ketertarikan itu muncul. Gara-garanya, aku datang ke sebuah acara Pasar Seni Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung. Di situ ada tempat kursus kerajinan yang buka stand. Aku ambil brosurnya dan ada footo makrame yang lucu, seperti gantungan pot dan tas akar pohon (akarwangi). Wah...jadi pingin langsung belajar deh.
Beberapa hari setelah itu, aku telepon tempat kursus craft itu. kebetulan gurunya ada dan biaya kursusnya cuma Rp 100 ribu. Itu pun udah dikasih bahannya berupa segulung benang woll. Segulung woll berdiameter sekitar 0,5 cm itu kalau beli di Pasar Baru Bandung harganya cuma Rp 8.000.
Belajarnya cuma sejam. Terus dilanjutkan di rumah. Berhubung aku harus pulang ke kantor dan ngejar deadline tulisan, akhirnya kegiatan membuat makrame itu dilanjutkan di kantor. Besoknya aku sudah punya kantung handphone warna hijau dari woll yang aku bikin sendiri dengan tekhnik makrame. Karena seneng, aku bagi-bagi ilmunya pada dua temen di kantor. Kan asik tuh kalau kita bisa rame-rame bermakrame.
Setelah berhasil bikin kantung handphone yang ngabisin satu gulung benang woll sebesar dua kepal tangan orang dewasa, aku coba-coba bikin ikat pinggang, ternyata satu gulung benang woll cuma bisa jadi satu buah ikat pinggang buat orang yang ramping, bukan untukku :p
Makin penasaran sama makrame, akhirnya aku makin seneng "nyelam" di internet untuk nyari berbagai kreasi makrame dari website orang-orang asing. Menurut Wikipedia sih katanya makrame awalnya adalah seni tali temali yang digunakan oleh cowok-cowok di Eropa Timur untuk bikin berbagai macam benda, salah satunya kantung belati. Tapi ada juga yang bilang makrame sebagai seni tali temali dari Arab.
Di luar hiruk-pikuk sejarah makrame, yang paling menarik adalah ada banyaaaaaak banget kreasi makrame. Mulai dari tirai pintu dan jendela, berbagai perhiasan, sampai meja dan kursi. Kalau bikin meja kursi sih aku nyerah deh. Rumit dan aku gak suka2 banget sama mebel.
Liburan sekolah tahun 2007, aku ditawarin ngajar keterampilan untuk anak di Hotel Savoy Homann. Aku tawarkan untuk bikin makrame sederhana berupa gelang. Tapi aku juga bawa contoh capung-capungan, kumbang, dan tas handphone agar anak-anak dan orangtua yang ikut kursus itu bisa mendapat gambaran bahwa makrame bisa menjadi media bikin apa saja. Hanya ada beberapa anak yang cepat ngerti dan berhasil bikin makrame. Tapi itu sudah bagus karena seperti roti, gak semua orang suka roti dan gak semua orang suka roti bisa bikin roti toh...Acara kursus tersebut sempat diliput dan dimuat surat kabar The Jakarta Post, 14 Juli 2007.
Yang aku rasain kalau bikin makrame, kayaknya motorik halus terus diasah, terbangun kesetiaan pada satu pola. Konsentrasi serta kecepatan berkembang setelah itu. Kreasi tentu saja jadi energi buat terus bermakrame. Yuk bikin makrame...
Semua pertanyaan itu ada hubungannya dengan makrame atau seni tali temali. Nah salah satu bentuk makrame itu adalah tali pluit pramuka. Di buku saku pramuka, ada tuh langkah2 gimana caranya membuat berbagai macam tali. Dari mulai tali untuk ngiket kepala kambing biar gak mencekik tapi gak mudah lepas, sampai tali makrame itu.
Sayangnya, dulu sewaktu SD dan gabung di pramuka, aku gak pernah peduli sama lembar-lembar pelajaran tali temali itu. Baru setahun lalu ketertarikan itu muncul. Gara-garanya, aku datang ke sebuah acara Pasar Seni Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung. Di situ ada tempat kursus kerajinan yang buka stand. Aku ambil brosurnya dan ada footo makrame yang lucu, seperti gantungan pot dan tas akar pohon (akarwangi). Wah...jadi pingin langsung belajar deh.
Beberapa hari setelah itu, aku telepon tempat kursus craft itu. kebetulan gurunya ada dan biaya kursusnya cuma Rp 100 ribu. Itu pun udah dikasih bahannya berupa segulung benang woll. Segulung woll berdiameter sekitar 0,5 cm itu kalau beli di Pasar Baru Bandung harganya cuma Rp 8.000.
Belajarnya cuma sejam. Terus dilanjutkan di rumah. Berhubung aku harus pulang ke kantor dan ngejar deadline tulisan, akhirnya kegiatan membuat makrame itu dilanjutkan di kantor. Besoknya aku sudah punya kantung handphone warna hijau dari woll yang aku bikin sendiri dengan tekhnik makrame. Karena seneng, aku bagi-bagi ilmunya pada dua temen di kantor. Kan asik tuh kalau kita bisa rame-rame bermakrame.
Setelah berhasil bikin kantung handphone yang ngabisin satu gulung benang woll sebesar dua kepal tangan orang dewasa, aku coba-coba bikin ikat pinggang, ternyata satu gulung benang woll cuma bisa jadi satu buah ikat pinggang buat orang yang ramping, bukan untukku :p
Makin penasaran sama makrame, akhirnya aku makin seneng "nyelam" di internet untuk nyari berbagai kreasi makrame dari website orang-orang asing. Menurut Wikipedia sih katanya makrame awalnya adalah seni tali temali yang digunakan oleh cowok-cowok di Eropa Timur untuk bikin berbagai macam benda, salah satunya kantung belati. Tapi ada juga yang bilang makrame sebagai seni tali temali dari Arab.
Di luar hiruk-pikuk sejarah makrame, yang paling menarik adalah ada banyaaaaaak banget kreasi makrame. Mulai dari tirai pintu dan jendela, berbagai perhiasan, sampai meja dan kursi. Kalau bikin meja kursi sih aku nyerah deh. Rumit dan aku gak suka2 banget sama mebel.
Liburan sekolah tahun 2007, aku ditawarin ngajar keterampilan untuk anak di Hotel Savoy Homann. Aku tawarkan untuk bikin makrame sederhana berupa gelang. Tapi aku juga bawa contoh capung-capungan, kumbang, dan tas handphone agar anak-anak dan orangtua yang ikut kursus itu bisa mendapat gambaran bahwa makrame bisa menjadi media bikin apa saja. Hanya ada beberapa anak yang cepat ngerti dan berhasil bikin makrame. Tapi itu sudah bagus karena seperti roti, gak semua orang suka roti dan gak semua orang suka roti bisa bikin roti toh...Acara kursus tersebut sempat diliput dan dimuat surat kabar The Jakarta Post, 14 Juli 2007.
Yang aku rasain kalau bikin makrame, kayaknya motorik halus terus diasah, terbangun kesetiaan pada satu pola. Konsentrasi serta kecepatan berkembang setelah itu. Kreasi tentu saja jadi energi buat terus bermakrame. Yuk bikin makrame...
Subscribe to:
Posts (Atom)

